Banyak orang yang mengatakan bahwa Pemilu tahun 2009 ini adalah Pemilu yang terburuk semenjak masa Reformasi.. Well.. yah… aku menerima pendapat itu karena emang banyak sekali pihak-pihak yang melaporkannya. Entah itu LSM yang peduli terhadap nasib anak bangsa, maupun parpol-parpol peserta Pemilu.

Pertama, masih banyak kesalahan di DPT. Banyak yang gak terdaftar sebagai pemilih. Tapi dilain pihak, banyak pemilih yang terdaftar dobel. Kedua, kecurangan-kecurangan seperti money politic, serangan fajar, penggelembungan suara.. Yah.. yang ini mah masalah klasik lah ya. Sangat susah klo kita mau idealis Pemilu harus bersih dari segala kecurangan. Mo diulang berapa kali?? Harus menghabiskan berapa trilyun lagi uang rakyat untuk sebuah Pemilu yang perfect?? Pasti..besar sekali kemungkinan masih bakal ada..aja yang gak bener.. Fiuuh..

Tapi bentuk-bentuk ketidakbenaran yang timbul dalam pelaksanaan Pemilu diatas tadi enggak terlalu aku ributkan.. Maksudnya..yah…begitulah.. Untuk masalah DPT, banyak support system dibelakangnya yang perlu dibenahi. Seharusnya semua sistem informasi dalam negara ini saling terintegrasi, tersentralisasi, jadi gak ada tumpang tindih pekerjaan atau data yang sama. Itu DPT kan berkaitan erat dengan data kependudukan. Data DPT itu diambil dari mana ya?? Kurang tau aku. Tapi bagusnya kan ya dari BPS kan ya?? Nah..cobalah audit itu kinerja BPS. Sudah bener gak mereka dalam melakukan pendataan. Nah, untuk hal ini aku kurang begitu concern. Begitu juga masalah kecurangan-kecurangan lainnya..

Yang lebih aku amati dari “gagal”nya Pemilu kali ini adalah lebih ke system ITnya. Secara, concern ilmuku adalah IT. Nah, dari berita yang banyak tersebar di media, ditemukan banyak sekali kelemahan dari sistem informasi yang dipakai.

Masalah yang pertama, security system kurang bagus sehingga mudah diserang hacker. Seorang hacker (cracker tepatnya) yang tergabung dalam sebuah perkumpulan hacker mengatakan bahwa sistem keamanan yang dipakai terlalu standard, bener-bener gak pantes untuk sebuah sistem informasi yang vital bagi sebuah negeri. Bagaimana ia tahu?? Dia bilang sih dia pernah “ngetes” untuk masuk ke jaringannya, dan ternyata..mudah..

Kedua, dengan biaya yang gede banget dibandingkan tahun-tahun Pemilu sebelumnya, performansi kerja sistemnya malah jauuuhhh lebih rendah. Bahkan, dalam perhitungan yang dibuat oleh Metro TV, jika terus menerus kecepatan tabulasi datanya hanya seperti hari-hari belakangan ini, yang seharinya hanya mampu menghimpun 1jutaan suara, maka tabulasi penghitungan suara baru akan selesai dalam waktu 4,5 bulan lagi. Itu berdasarkan DPT sejumlah 171 juta pemilih. Hyyaaahhhh…. sapa yang mo nungguin segitu lama?? Padahal kan sudah dipatok mo diadakan Pemilu Presiden bulan Juli ini.

Penasaran, aku mo tau, sapa sih konsultan ITnya.. Kok bisa-bisanya gak beres ngurusin hal sepenting itu. Dan, kok gak ada sih konfirmasi dari mereka tentang keleletan sistem yang mereka urusin ini. Mbok ya muncul, bikin konfrensi pers dan menerangkan apa yang sedang terjadi dengan sistem informasi Pemilu.

Ternyata oh ternyata..setelah aku baca-baca beberapa artikel di internet, aku menemukan banyak sekali fakta ..

Gini ceritanya.. Pertama, KPU membentuk tim IT yang bertugas untuk menganalisa kebutuhan IT untuk Pemilu 2009. Tim itu dibentuk pada tanggal 10 Desember 2008 dan menyerahkan hasil analisanya pada 14 Januari 2009. Nah, tanggal 1 Februari 2009 dua orang pemimpin dalam tim IT itu tidak dipekerjakan lagi. Entah apa artinya..apakah dipecat, atau dinonaktifkan sementara aja.

Setelah tim IT menyerahkan laporannya ke KPU, KPU lalu mengadakan kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Yang aneh, pihak BPPT bilang mereka tidak turut serta dalam proses pengambilan kebijakan menyangkut penggunaan teknologi untuk tabulasi ini. Begitu juga dengan pengakuan dari tim IT. Mereka mengaku gak ikut-ikutan dalam merekomendasikan penggunaan teknologi Intelligent Character Recognition (ICR). Jika BPPT tidak berperan dalam pengambilan keputusan menyangkut penggunaan teknologi tabulasi, dan tim TI KPU juga bilang tidak, lha terus atas saran siapa KPU memutuskan? Hadoohh…inilah awal mula ketidakjelasan sistem informasi KPU.

Dan konsultan atau pemenang tender yang bertanggung jawab atas sistem informasi pemilu ini adalah PT Lapi Divusi. Dengan budget Rp1,8 milyar dari Rp2,3 milyar yang dianggarkan KPU, mereka mengupgrade sistem yang sebelumnya dipakai pada Pemilu tahun 2004. Untuk itu, mereka harus memberi beberapa perangkat hardware dari Singapura karena sudah tidak ada lagi yang menjualnya di Indonesia. Tak hanya pembelian spare part, dana itu juga digunakan untuk biaya maintenance dan teknisi sistem tersebut sampai bulan Oktober 2009.

Oya, satu lagi.. Dari berita-berita di internet, aku mendapatkan info kalau ternyata KPU di tengah proses tabulasi datanya, sempat meminjam 5 server dari BPPT karena server yang ada (sejumlah 6 server) sudah gak kuat lagi menangani pekerjaannya (dan, sempat down juga kan??). Padahal dengan anggaran Rp 1,6 Miliar aja bisa diperoleh 30 server baru dengan storage 24 terrabyte.

Entah, aku masih belum mndapatkan informasi lebih lengkap lagi tentang seluk beluk internal sistem informasi KPU ini. Nanti akan aku cari tahu…

Untuk artikel selanjutnya, aku akan jelaskan tentang teknologi ICR atau Intelligent Character Recognition yang dipilih oleh KPU untuk -katanya bisa- mempercepat proses tabulasi data. To be continued… ;)
*) dari berbagai sumber terpercaya..cari aja di detik

One Response to “Carut Marut Pemilu 2009 [1]”
  1. AYO KITA DUKUNG KAPU MENYELENGGRAKAN PEMILU YANG BERSIH

Leave a Reply