Author Archive

arisan terakhir
Farewell party dadakan di acara arisan Dharma Wanita kemarin berhasil membuat air mataku tertumpah kembali. Aaahhh.. sudah aku bilang jangan bikin aku sedih meninggalkan kalian. Aku terlalu mudah untuk menangis.. Anyway, makasih dah bisa gabung dengan Ibu-Ibu itu selama 1,5thn ini. Aku senang beraktifitas dengan mereka. Seru, ibu-ibu banget..aku suka ^_^
Sisa hariku di kota ini semakin berkurang.. Masih menunggu senin untuk kepastian kapan aku bisa berangkat ke negeri Laskar Pelangi. Ada beberapa pekerjaan mungkin yang masih akan menahanku beberapa hari di kantor ini. Tapi, selebihnya..sungguh aku tak punya alasan untuk berlama-lama lagi disini. Aku harus segera pergi. Kantor ini sudah Allah cukupkan untuk mengenalku, menjadi ladangku untuk beramal sholeh. Dan sekarang, Allah menitipkan lagi sebuah komunitas yang baru untukku.
Ya Allah..aku hanya berharap, semoga di tempat yang baru nanti aku masih bisa memberikan manfaat. Semakin banyak lagi amal kebaikan yang bisa aku perbuat disana. Lebih banyak lagi ukhuwah yang bisa aku jalin dengan saudara-saudaraku. Semakin ku bisa belajar banyak tentang kehidupan ini.
Dan sungguh, aku tak bisa menebak-nebak rencana yang Kau persiapkan untukku disana. Hanya ku tahu pasti, Kau tlah mempersiapkan yang terbaik untukku.

Cita dan Cinta
Cita.. aku akan meraihmu disana.. Smua obsesi, mimpi dan harapan dalam cita, akan terus aku bangun dan kuwujudkan. Tak hanya untukku, tapi juga untuk kejayaan Deen dan perbaikan negeri ini. Insya Allah.. kabulkan Ya Rabb..
Yahh.. Seperti ungkapan dalam lirik lagunya Nidji “Laskar Pelangi”:

mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya…

Dan cinta..?? :) Kemanapun Allah membawa kaki ini melangkah..kalo yang namanya jodoh, pasti ketemu juga. Asalkan ada niat, azzam yang kuat, dan ikhtiar mencapainya..insya Allah, Allah akan memberkahi.
Pangeranku, imamku yang akan membimbingku menuju keridhoan Allah.. kau dimana siihhh? Allah kini tlah membawaku ke sebuah pulau kecil dekat Sumatra. Jemput, atau tunggulah aku disana. Kan kunanti sampai saatnya tiba. Dan cukuplah aku ditemani cinta kepada Allah kini sebelum kudapat cintamu. Yang akan membuat cintaku kepadaNya semakin bertambah.

Haha…uppss curhat kecil seorang vina tentang cinta. Biarlah..

blog baru
Oya, sekalian.. Dah lama aku gak update blog ini. Mo kasih tau temans klo aku dah punya blog baru.
Cerita-cerita awal tentang pembuatan blog ini, bisa dilihat disini
Kedepannya, mungkin akan lebih banyak bercerita di blog itu. Dan blog friendster ini nanti hanya akan menampilkan semacam “daftar isi” atau resume, yang menginfokan artikel2 apa aja yang aku upload d web blogspotku tadi. Kalau dulunya tiap kali update pasti ada email remainder ke kalian, next palingan cuma ada sekali remainder aja kok untuk beberapa artikel.. Hihi.. biar blog ini tetep terisi n kalian tetep update sama blogku. Gitu mksudnya.. :P

Comments No Comments »

Hi hi… i have something new today.. ^_^

for a new spirit ^_^

for a new spirit ^_^

Rencana membuat ruangan kerja menjadi lebih rapi, cantik, dan ‘lil bit fun akhirnya tercapai. Kini ada pemandangan baru di pojokan mejaku.. Kotak kosong bekas toa yang selama ini nempel disamping rak besi (apaan sih namanya tuh??) sudah berubah menjadi rak buku a la olympic style berwarna krem terang.

Yup, sebuah rak cantik duduk manis disampingku.. :) Dan kini aku gak perlu bingung lagi dimana menaruh barang2ku yang lumayan riweuh. Buku, arsip, dan odner bisa berjejer rapi, tidak asal ditumpuk dan merusak pemandangan seperti dulu. Tasku juga jadi gak bergelempangan dilantai. Ditambah, keberadaan rak itu membuat mejaku tidak penuh lagi. Kalau ada pasien (baca: laptop) yang sedang sakit, yang biasanya kusembuhin diatas mejaku, kini raganya bisa ditaruh di atas  rak itu. Untuk itu, meja paling atas rak harus selalu bersih agar sewaktu-waktu pasien datang bisa langsung ditangani (emangnya UGD??)..

Oya, selain rak yang baru aja aku impor langsung dari rumah itu, ada satu lagi yang baru: a memories board! Mengapa namanya memories?? Itu karena bad habitku yang kadang suka lupa :P Jadi, klo ada hal-hal yang harus dikerjakan, klo ada hal-hal penting yang harus kupersiapkan, aku akan tempelkan memo-nya di papan itu. Well..sebenernya bukan papan.. Yang kupakai sebagai “board” adalah dinding rak yang menempel pada rak bukuku.. Dan karena papannya terbuat dari seng (atawa besi), jadinya bisa ditempelin magnet2 kulkas yang lucu-lucu.. Hahaha.. so creative right? ;)
Dengan adanya rak dan the memories board, suasana sekitar meja kerjaku jadi gak mbosenin lagi. Jadi seru n fun.. Berharap dengan rombakan ini semangat kerja jadi lebih tinggi lagi. Karena apa pun tugas yang diberikan, meskipun itu berat, tapi klo kita mampu membuat suasana jadi lebih fun, insya Allah kita bisa mengerjakan tugas  itu dengan lebih baik lagi.. Lebih semangat pastinya. Betul?? So, let’s make it fun… and enjoy your day.. ^_^

*)but, there’s still another big problem need to be solved surround me: how to always get a fresh air every day?? a fresh air without nicotine inside.. ~_~ help me..hiks..hiks..hiks..

Comments No Comments »

Penulis : Nova Ayu Maulita

“Assalamu’alaikum, Ukhti!” suara melengking itu spontan membuatku mendongak. Tommy terlihat sumringah saat melihatku.

“Apa kabar nih? Lama nggak ketemu. Jadi kangen!”

Mulutku tercekat. Hari gini dia bilang kangen sama aku? Ugh. Rasanya aku ingin tenggelam ditelan bumi. Masalahnya saat itu aku tidak sendirian. Aku sedang bersama adik mentoringku. Masalahnya lagi, baru lima menit yang lalu aku mengisi mentoring tentang manajemen hati dan sikap. Nah, kalau sekarang aku disapa Tommy seperti itu kan jadi rumit. Bisa-bisa dikira aku punya skandal dengan ikhwan yang satu ini.

“Iya, liburan kemana aja, Ukh? Cerita-cerita dong!” Tommy masih nyerocos tanpa merasa bersalah sama sekali. Sementara itu aku senin-kamis menahan malu sambil menghindari tatapan adik-adik mentorku yang sesekali tersenyum nakal dan berdehem-dehem. Mungkin saat itu mukaku sudah berubah menjadi traffic light, merah kuning hijau. Tapi dia tetap saja cuek dan pasang innocent face.

Tommy adalah teman sekelas SD-ku. Enam tahun sekelas dengan nomor absen berurutan membuat kami lumayan akrab. Sering ngobrol, sering kerja kelompok, sering merancang ide-ide konyol, tapi sering bertengkar juga. Pokoknya dulu bisa dikatakan kami berteman baik deh. Waktu lulus SD, dia pindah ke luar kota. Tidak pernah ada kabar sampai tiba-tiba dia sudah satu jurusan, bahkan sekelas denganku di universitas. Tapi tentu saja semua sudah berubah. Paling tidak sekarang aku sedikit-sedikit juga tahu adab bergaul dengan lawan jenis.

Tapi, entahlah bagaimana dengan Tommy. Dia memang terbuka, suka bergaul, bercanda, dan ngobrol dengan siapa saja. Sepertinya sekarang dia juga sudah cukup paham. Sekarang kami sama-sama bergabung di rohis fakultas. Tommy sering juga ikut kajian umum di fakultas, sering terlihat kumpul bareng ikhwan-ikhwan mushala, sering ikut dalam kepanitiaan SKI, dan juga cukup sering menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan pengetahuan Islamnya cukup terakreditasi. Tapi untuk masalah ’centilnya’ ini, ah entahlah… .

”Kok diem terus sih, Van! Ngomong dong! Ngomong…!” Disuruh ngomong aku malah semakin kikuk. Apa lagi kalau mengingat nada suaranya yang mirip-mirip iklan operator telepon selular yang beberapa waktu lalu sempat populer, ”Ngomong dong, sayang..!” Weeit…!

”Iya, ya, liburanku biasa-biasa aja kok. Pulang cuma seminggu, belum hilang kangennya sama orang rumah. Kemari… nggak jadi deh!” aku nyaris saja keterusan bicara. Tadinya aku mau cerita kalau kemarin aku ketemu sama Dela, teman kami dalam hal gila-gilaan waktu di SD dulu. Wah, kalau tadi aku cerita, pasti obrolan nostalgia SD akan jadi panjang.

”Kemarin kenapa? Cerita dong… aku jadi penasaran nih.”

”Nggak usah, nggak penting kok! Anggap aja tadi aku nggak ngomong apa-apa”

”Uh… dari dulu kamu nggak berubah. Bikin orang penasaran.”

Aku cuma ngiyem mendengarnya.

”Eh, Van, Van. Kamu liat akhwat itu nggak?” Kali ini Tommy mengalihkan pembicaraan. Matanya mengarah pada seorang akhwat yang berbaju abu-abu di seberang. ”Emangnya kenapa?” Aku terpancing ingin tahu.

”Itu tuh, bajunya kok nggak match ya. Liat tuh, bajunya abu-abu, bawahannya hijau, jilbabnya item, eh… tasnya merah. Bagusan kan kalau roknya item dan tasnya apa gitu kek, yang penting jangan merah. Trus kaos kakinya itu lho, kok kuning. Aduh…!” Tommy sok-sok memberikan penilaian bak seorang desainer sambil memukul-mukulkan telapak tangan ke jidatnya. ”Payah ah, penampilannya! Kalau kamu hari ini sudah cukup match kok, Van. Bagus, bagus!” Tommy memandangi sekilas setelan biru yang kupakai.

Aku sudah tidak tahan mendengar komentar-komentarnya tadi. Siapa yang butuh komentar darinya? Kalau saja kami masih jadi anak SD, sudah kutonjok dia dari tadi. Hiiihhh!

”Plis dong, Akh! Penting nggak sih buat kamu? Kasian lagi kalau beliaunya denger kamu ngomongin dia kaya gitu. Bisa kehilangan pede. Lagian harusnya kan antum jaga pandangan dong!” jawabku ketus disertai tampang bete. Khusus kalau sedang bicara dengan Tommy kata-kataku jadi campur aduk, tergantung mood. Kadang pakai istilah akhi, antum, afwan, atau istilah-istilah Arab lain. Tapi kadang juga keluar aku, kamu, kasian deh lu, dan bahasa-bahasa gaul lainnya yang dulu biasa kami pakai.

”Emang nggak boleh ya komentar kaya gitu? Kalau aku malah seneng kalo ada yang ngeritik. Ah, wanita memang susah dimengerti.”

Aku menahan diri untuk tidak berkomentar sambil mengepal-kepalkan telapak tanganku di samping baju. Rasanya darahku sudah mendidih sampai ke otak. Melawan kata-katanya hanya akan memicu perdebatan yang sulit diramalkan endingnya.

”Eh, udah deh, aku pergi dulu ya.”

Tiba-tiba rongga dadaku terasa lega mendengar kalimat terakhirnya itu. Lega.

”Tapi Ukh, sebelumnya tolong liatin muka saya ada tip-exnya nggak?”

Saking gembiranya, aku langsung menuruti persyaratan untuk membuatnya menghilang dari hadapanku. Aku mendongak menatap wajah yang ditumbuhi sehelai jenggot itu. ”Nggak ada, kok,” jawabku.

”Makasih ya, Ukh! Tapi bukannya kita nggak boleh memandang wajah lawan jenis? Sudah ya, wassalamu’alaikum…!”

Tinggal aku yang bengong dan gondok habis. Ugh… kena deh! Awas ya!

***

“Assalamu’alaikum…” Sosok Tommy sudah muncul di depan kostku. Aku celingukan mencari teman yang mungkin dibawanya serta. Nihil.

“Waalaikum salam warah-matullah.. sendirian aja, Tom? Nggak bawa temen?” aku jadi kikuk. Serba salah. Setahuku kalau ada dua orang laki-laki dan perempuan maka ketiganya ada setan. Hiyy. Di sini ada setan dong!

Tommy sudah empat kali berkunjung ke kostku. Aku juga sudah selalu berpesan kalau dia harus mengajak seorang teman biar kami nggak ngobrol berdua. Tapi sampai sekarang dia masih suka nekat datang sendirian. Dan aku juga belum bisa mengusirnya dengan tegas. Nggak tega.

”Afwan, tadi cuma mampir karena habis beli jus dekat sini. Udah bikin tugas analisis konflik dan perdamaian, Ukh?”

”Udah, baru aja selesai.” Aku berusaha menghemat kata-kataku.

”Aku bingung nih, masalahnya gimana sih? Bisa minta tolong dijelasin nggak?”

Pertanyaannya bikin aku garuk-garuk kepala. Memaksaku untuk menjawab panjang lebar. ”Bisa nggak kalo nanya di kampus aja?”

”Tapi aku kan mau ngerjain nanti malem. Besok kita juga nggak ketemu di kampus. Padahal lusa harus dikumpulin.” Suaranya bernada kecewa.

”Emang nggak bisa nanya ke yang lain?!”

”Eh, kok ketus banget sih, Van! Aku kan udah bilang, mampir kesini karena kebetulan habis beli jus di samping kostmu, trus inget kalau ada tugas yang aku nggak ngerti. Jadi sekalian nanya. Malu bertanya sesat di jalan. Kita kan nggak boleh menyembunyikan ilmu yang kita miliki. Ya udah kalau nggak boleh.”

Tiba-tiba hatiku meluluh. Kena jebakan kata-katanya. ”Emang mau nanya apa sih?”

Tommy nyengir. ”Nah, gitu dong!”

Akhirnya terjadilah diskusi kecil kami selama hampir setengah jam.

”Makasih banyak, Vanti! Entar namamu kucantumin di daftar pustaka deh.” Tommy berusaha melucu.

Tapi bagiku yang sudah bete banget jadi tidak lucu sama sekali. Plis dong, Akh!

”Pulang dulu ya. Sampai jumpa. Mimpi indah ya! Bu bye..”

Gleg. ”Kok sampai jumpa sih? Pake bubye pula.”

”Eh, iya, afwan. Assalamu’alaikum…”

”Alaikum salam warahmatullah.”

***

Sepertinya belakangan ini Tommy menjadi sebuah masalah bagiku. Dan entah kenapa banyak kebetulan-kebetulan yang menyebabkan aku harus bersama dengannya. Misalnya pernah waktu jalan tiba-tiba kebetulan dia juga sedang jalan kaki dan tanpa sungkan-sungkan langsung mengajak ngobrol. Waktu beli makan di kantin juga ketemu. Tiga kali ketemu di toko buku. Ke perpustakaan juga ketemu. Di luar kebetulan-kebetulan itu, Tommy juga sering sekali mengirim sms, menelepon, dan menanyakan hal-hal yang sama sekali tidak penting. Suka curi-curi pandang, suka memujiku, dan hal-hal lain yang menurutku sangat menjengkelkan. Rasanya aku ingin beberapa hari cuti jadi orang yang mengenalnya, biar kalau ketemu lagi aku tidak perlu merasa begitu bosan seperti sekarang.

”Jangan-jangan kalian jodoh” Aku hampir tersedak waktu Ika tiba-tiba mengucapkan hal itu. Memecahkan keasyikanku menikmati makan siang di kantin Yu Jum.

”Uhuk… uhuk… hari gini ngomongin jodoh?!” aku buru-buru minum karena tenggorokanku tercekat.

”Emangnya nggak boleh? Kuliah sudah semester lima, umur sudah kepala dua. Kalau memang jodoh kan bisa segera…” Ika cengar-cengir melihatku.

”Astaghfirullah, ngapain sih ngomong kaya gitu, Ka? Jodoh itu rahasia Allah, dengan siapa dan kapan itu rahasia Allah. Nggak usah dipikirin pun toh kalau sudah tiba waktunya akan datang sendiri. Nggak bisa diundur dan nggak bisa dipercepat.”

”Iya, tapi kan kalau memang sudah siap maka makruh hukumnya menunda-nunda pernikahan.” Kali ini Ika mengedip-ngedipkan matanya centil. Membuatku serasa semakin ingin menghilang.

”Yee, siapa yang bilang sudah siap nikah?”

”Lho, kamu belum tahu ya? Tommy kan mau nikah muda! Jadi… jangan-jangan dia sudah punya calon. Siapa tahu…! Inget lho, kalau sudah ketemu jodoh dan mampu, maka makruh hukumnya menunda pernikahan.” Ika kembali bersemangat sekali membuatku jengkel.

”Udah ah… kamu bikin aku kehilangan nafsu makan aja, Ka! Kalau kamu berminat, bungkus deh buat kamu!” Ika hanya terkekeh mendengarnya.

***

Entah kenapa tanpa kusadari, obrolan dengan Ika itu menghantui pikiranku. ”Iya, jangan-jangan, jangan-jangan… oh tidak! Paling hanya aku yang ke-geer-an.

New sms! Handphoneku tiba-tiba mengoceh sendiri.

Ups, dari Tommy!

Vanti yang baik, tolong ya siapin surat izin pinjam tempat buat syura besok. Plizz, you are my only hope =)

Ih, apa-apaan sih ini kok minta tolong saja merayunya sampai maut begini. Nggak menghargai banget, masa ngomong sama akhwat masih tetap gombal-gambel kaya gini sih. Tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada perkataan Ika siang tadi. Jangan-jangan…. Kadang sikapnya memang suka aneh sih, suka ngajak ngobrol lama-lama, suka memuji, suka sok kebetulan mampir dengan alasan beli jus. Padahal di dekat kostnya pasti juga ada yang jual jus, ngapain juga jauh-jauh beli jus sampai ke sini. SMS yang model begitu juga bukan barang baru lagi. Ihh.

***

”Hati-hati lho, Van!”

”Kenapa?” alis mataku terangkat refleks.

”Hati-hati lah… sama ikhwan kaya gitu!” tukas Evi, tetangga kamarku.

”Tahu nggak, kemarin Tommy ke sini lagi lho…”

”O ya?” kini mataku yang terbelalak.

”Hati-hati sama hatimu sendiri. Kan kamu sendiri yang bilang apa tuh… witing tresna jalaran suka kulina. Nah, kalau kamu tiba-tiba jadi suka sama dia gara-gara dia sering ke sini gimana?” Evi menatapku serius.

”Apalagi kalian sudah kenal sejak kecil kan?” pertanyaannya semakin menusukku.

So what gitu lho…”

”Ya silakan ditafsirkan sendiri… aku cuma mengingatkan, setan itu cerdik bin lihai lho…”

Aku manggut-manggut.

”Harus bisa tegas!” tambah Evi lagi.

”Tegas? Maksudnya, kalau dia dateng lagi aku harus apa? Kalau dia sms nggak usah dibales gitu?”

”Iyalah… kalau dia dateng tuh, nggak usah dibukain pintu! Kalau sms nggak usah dibales. Kalau becanda nggak usah diladeni, pokoknya bersikaplah dingin!”

”O… gitu ya?”

***

Ternyata saran Evi cukup jitu. Tommy tidak lagi menjadi masalah bagiku dalam tiga minggu terakhir. Senangnya….

”New sms!”

Kuraih handphoneku.

Tommy!

Ass. Van, tidak saya kira, anti juga bisa bersikap tegas dan cool. Cocok dengan kriteria saya. Jadi, kapan anti siap menikah?

Pliss dong, Akh!

Tiba-tiba mataku memanas. Aku tidak sanggup bernapas lagi.

***

Diambil dari Majalah Annida, No. 2/XVI/15 Oktober – 15 Nopember 2006.

Comments No Comments »

Aku yakin, setiap orang pasti punya obsesi. Setiap orang punya impian, harapan, dan cita-cita dalam hidupnya…

Sore itu aku melihat inbox di salah satu blogku. Aku tertarik dengan salah satu postingan baru dari sahabat mayaku. Wah..ternyata ia baru saja melahirkan seorang putri.. ^_^ Mbak ineu, begitu nama panggilan beliau, adalah orang Indonesia yang saat ini sedang berdomisili di Berlin, Jerman.

Mbak ineu memposting foto-foto bayi kecilnya saat kelahiran bersama keluarga dan sahabat yang kebetulan menjenguk. Juga, beliau memposting suasana Rumah Sakit dan lingkungan sekitarnya sebelum sang bayi, Saniyya, dilahirkan. Tampak bangunan rumah sakit yang megah dengan lorong-lorongnya. Tak lupa, beliau juga mengabadikan foto suster-suster yang ikut membantu kelahiran putri ketiganya.

Kebun Tulip... Kapan ya bisa kesana ^_^

Kebun Tulip... Kapan ya bisa kesana ^_^

Oya, beberapa foto menampilkan warna-warna yang sangat indah.. Bunga tulip warna warni merah muda dan kuning. Ada juga daun rimbun pepohonan yang berwarna merah muda..warna pastel..bagussss banget.. Trus, mbak Ineu juga memfoto birunya langit dan hijaunya rerumputan a la Eropa. Semuanya tampak fresh..seger banget ngeliatnya.

Dan..subhanallah… Tak ada yang dapat menandingi indahnya ciptaanMu Ya Allah.. Jadi terharu dan hampir meneteskan air mata. Betapa diluar sana, diluar negara kita… Ada keindahan alam lainnya yang Allah ciptakan. Setiap tempat memiliki keunikan masing-masing. Dan, pasti suatu kebahagiaan ya bisa mengenal dan menikmati keindahan alam dari berbagai penjuru dunia..

daun warna pink, cantikkkk bgt...

daun warna pink, cantikkkk bgt...

Ahhh… Aku ingin pergi ke luar negeri.. Aku ingin menikmati hiruk pikuk kota Jepang dengan orang-orangnya yang sangat ulet dalam bekerja. Aku ingin ke negeri Jerman untuk merasakan dan mempelajari perkembangan teknologi yang sangat pesat disana. Aku juga mo tau gimana rasanya hidup di negara empat musim. Tak lupa, harus bisa mengunjungi Mekkah Al Mukaromah untuk pergi berhaji bersama keluarga..

Keliling dunia.. Aku mau bgt (mupeng mode on)!!! Mengenal lebih banyak lagi keindahan ciptaan Allah.. Bertualang ke berbagai negeri.. haha.. “sagitarius” sekali ya?? ;) But that’s one of my obsession.. ^_^ Entah kapan bisa terwujud. Tapi.. teruslah berusaha untuk mewujudkannya, semoga Allah mengabulkan harapan dan cita kita. Amin..

*) sumber foto dari http://family.al-habib.info/

Comments 1 Comment »

Diartikel sebelumnya, aku dah menjelaskan tentang beberapa kesimpangsiuran dalam pengadaan sistem informasi untuk tabulasi suara KPU. Sekarang, setelah sekian lama (hehe..), aku mo menepati janjiku kemarin untuk menjelaskan tentang teknologi ICR. Apa itu ICR??
Untuk memberi gambaran tentang ICR, yuk kita lihat juga metode-metode lain yang sering digunakan untuk pembacaan atau extraksi data dari gambar hasil scanning sebuah dokumen. Metode-metode itu adalah OCR dan DMR

1. OCR atau Optical Character Recognition, yaitu metode pembacaan teks huruf cetak dari lembar yang discan. Teknologi OCR cocok digunakan untuk membaca lembar berisi huruf cetak yang merupakan hasil cetakan dari sebuah mesin cetak, printer atau sejenisnya. Ciri-cirinya: setiap huruf (dengan font dan size yang sama) di manapun letaknya memiliki bentuk yang persis sama.
Teknologi ini biasanya ada sepaket dengan scannernya. Jadi, beli aja scanner yang punya teknologi OCRnya.

2. DMR atau Digital Mark Reader, yaitu pengembangan lebih lanjut dari apa yang tadinya dikenal dengan OMR atau Optical Mark Recognition. Teknologi ini membaca tanda bulatan atau tanda silang pada kertas yang discan menjadi data, tergantung di mana tanda tersebut diberikan.
Penggunaan teknologi ini biasa kita jumpai pada ujian masal seperti UMPTN, test CPNS, sertifikasi dan mulai tahun 2008 juga digunakan pada UASBN atau ujian akhir siswa-siswi tingkat SD. Itu loh, medianya yang biasa kita sebut dengan lembar LJK. Nah, akurasi atau ketepatan DMR lebih baik daripada OCR karena tidak ada pengaruh ukuran dan bentuk font dan karena itu akurasi 100% bisa tercapai dengan mudah.
Memang mengisinya lebih repot karena selain menulis angka, juga memberi tanda silang di bawahnya. Tapi kalau anak yang belum tamat SD sudah mampu melakukannya, apalagi petugas di TPS. Kekurangan lainnya adalah jumlah lembar yang diisi juga lebih banyak.
Namun kalau yang diutamakan adalah AKURASI data serta KECEPATAN, teknologi ini tak tertandingi. AKURAT karena tidak terpengaruh bentuk tulisan, dan CEPAT karena tidak perlu validasi data untuk setiap lembar yang discan. Kecepatan scanning dan termasuk pembacaannya bisa 2 lembar perdetik, tanpa ada waktu penalti untuk koreksi dan validasi.

3. ICR atau Intelligent Character Recognition adalah teknologi yang mengandalkan intelegensi buatan (jadi inget matkul AI pas kuliah dulu) untuk mengenali tulisan tangan menjadi data. Kalau OCR membaca huruf hasil cetakan, maka ICR membaca tulisan tangan. Kalau OCR saja tidak 100% akurat apalagi ICR, maka adalah omong kosong jika ada ICR yang mampu mencapai akurasi 98%, kecuali jika tesnya sangat terbatas dan kondisinya terekayasa dengan apik.
Tulisan tangan setiap orang berbeda-beda. Tulisan tangan orang yang sama pun berbeda-beda. Kadang kita menulis agak miring ke kanan, kadang miring ke kiri kadang tegak, mungkin tergantung mood atau suasana hati pada saat kita menulis. ICR akan berusaha sebaik mungkin untuk MENEBAK tulisan tangan yang dibaca berdasarkan kemiripan atas kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan pada algoritma yang digunakan.
ICR bertumpu pada cara atau algoritma yang digunakan dalam menebak. Yang namanya tebakan, biasanya makin sering menebak makin banyak benar dalam tebakannya, dan setiap tebakan bisa diperkirakan tingkat keyakinan akan benar tidaknya tebakan tersebut.
Ini adalah salah satu cacat dari teknologi ICR yaitu pada saat dia YAKIN tebakannya BENAR tapi ternyata SALAH. Istilahnya adalah “False Positive”. Karena false positive ini tidak bisa dihindari, maka tidak ada satu lembar pun hasil scanning yang tidak perlu diverifikasi dan divalidasi, berapapun tingginya akurasi yang diklaim oleh sebuah produk ICR.

Inilah jebakan yang harus dihindari jika AKURASI dari data adalah segalanya, dan karenanya secara teknis sebenarnya ICR tidak cocok digunakan untuk penghitungan suara yang harus AKURAT dan CEPAT seperti pada penghitungan suara PEMILU ini.  Jangan sampai ada kesalahan, jangan sampai ada warga negara yang suaranya tidak terhitung atau ada yang salah hitung. Kenapa? Karena itulah hak kita sebagai warga negara yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.
Para peneliti dari ITB pun menyatakan bahwa teknologi / metode ICR ini tidak tepat untuk dipergunakan dengan mempertaruhkan masa depan negara. Dan untuk Pilpres pada bulan Juli 2009, ICR sebaiknya tidak digunakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama pada PEMILU Legislatif.

Comments No Comments »

Banyak orang yang mengatakan bahwa Pemilu tahun 2009 ini adalah Pemilu yang terburuk semenjak masa Reformasi.. Well.. yah… aku menerima pendapat itu karena emang banyak sekali pihak-pihak yang melaporkannya. Entah itu LSM yang peduli terhadap nasib anak bangsa, maupun parpol-parpol peserta Pemilu.

Pertama, masih banyak kesalahan di DPT. Banyak yang gak terdaftar sebagai pemilih. Tapi dilain pihak, banyak pemilih yang terdaftar dobel. Kedua, kecurangan-kecurangan seperti money politic, serangan fajar, penggelembungan suara.. Yah.. yang ini mah masalah klasik lah ya. Sangat susah klo kita mau idealis Pemilu harus bersih dari segala kecurangan. Mo diulang berapa kali?? Harus menghabiskan berapa trilyun lagi uang rakyat untuk sebuah Pemilu yang perfect?? Pasti..besar sekali kemungkinan masih bakal ada..aja yang gak bener.. Fiuuh..

Tapi bentuk-bentuk ketidakbenaran yang timbul dalam pelaksanaan Pemilu diatas tadi enggak terlalu aku ributkan.. Maksudnya..yah…begitulah.. Untuk masalah DPT, banyak support system dibelakangnya yang perlu dibenahi. Seharusnya semua sistem informasi dalam negara ini saling terintegrasi, tersentralisasi, jadi gak ada tumpang tindih pekerjaan atau data yang sama. Itu DPT kan berkaitan erat dengan data kependudukan. Data DPT itu diambil dari mana ya?? Kurang tau aku. Tapi bagusnya kan ya dari BPS kan ya?? Nah..cobalah audit itu kinerja BPS. Sudah bener gak mereka dalam melakukan pendataan. Nah, untuk hal ini aku kurang begitu concern. Begitu juga masalah kecurangan-kecurangan lainnya..

Yang lebih aku amati dari “gagal”nya Pemilu kali ini adalah lebih ke system ITnya. Secara, concern ilmuku adalah IT. Nah, dari berita yang banyak tersebar di media, ditemukan banyak sekali kelemahan dari sistem informasi yang dipakai.

Masalah yang pertama, security system kurang bagus sehingga mudah diserang hacker. Seorang hacker (cracker tepatnya) yang tergabung dalam sebuah perkumpulan hacker mengatakan bahwa sistem keamanan yang dipakai terlalu standard, bener-bener gak pantes untuk sebuah sistem informasi yang vital bagi sebuah negeri. Bagaimana ia tahu?? Dia bilang sih dia pernah “ngetes” untuk masuk ke jaringannya, dan ternyata..mudah..

Kedua, dengan biaya yang gede banget dibandingkan tahun-tahun Pemilu sebelumnya, performansi kerja sistemnya malah jauuuhhh lebih rendah. Bahkan, dalam perhitungan yang dibuat oleh Metro TV, jika terus menerus kecepatan tabulasi datanya hanya seperti hari-hari belakangan ini, yang seharinya hanya mampu menghimpun 1jutaan suara, maka tabulasi penghitungan suara baru akan selesai dalam waktu 4,5 bulan lagi. Itu berdasarkan DPT sejumlah 171 juta pemilih. Hyyaaahhhh…. sapa yang mo nungguin segitu lama?? Padahal kan sudah dipatok mo diadakan Pemilu Presiden bulan Juli ini.

Penasaran, aku mo tau, sapa sih konsultan ITnya.. Kok bisa-bisanya gak beres ngurusin hal sepenting itu. Dan, kok gak ada sih konfirmasi dari mereka tentang keleletan sistem yang mereka urusin ini. Mbok ya muncul, bikin konfrensi pers dan menerangkan apa yang sedang terjadi dengan sistem informasi Pemilu.

Ternyata oh ternyata..setelah aku baca-baca beberapa artikel di internet, aku menemukan banyak sekali fakta ..

Gini ceritanya.. Pertama, KPU membentuk tim IT yang bertugas untuk menganalisa kebutuhan IT untuk Pemilu 2009. Tim itu dibentuk pada tanggal 10 Desember 2008 dan menyerahkan hasil analisanya pada 14 Januari 2009. Nah, tanggal 1 Februari 2009 dua orang pemimpin dalam tim IT itu tidak dipekerjakan lagi. Entah apa artinya..apakah dipecat, atau dinonaktifkan sementara aja.

Setelah tim IT menyerahkan laporannya ke KPU, KPU lalu mengadakan kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Yang aneh, pihak BPPT bilang mereka tidak turut serta dalam proses pengambilan kebijakan menyangkut penggunaan teknologi untuk tabulasi ini. Begitu juga dengan pengakuan dari tim IT. Mereka mengaku gak ikut-ikutan dalam merekomendasikan penggunaan teknologi Intelligent Character Recognition (ICR). Jika BPPT tidak berperan dalam pengambilan keputusan menyangkut penggunaan teknologi tabulasi, dan tim TI KPU juga bilang tidak, lha terus atas saran siapa KPU memutuskan? Hadoohh…inilah awal mula ketidakjelasan sistem informasi KPU.

Dan konsultan atau pemenang tender yang bertanggung jawab atas sistem informasi pemilu ini adalah PT Lapi Divusi. Dengan budget Rp1,8 milyar dari Rp2,3 milyar yang dianggarkan KPU, mereka mengupgrade sistem yang sebelumnya dipakai pada Pemilu tahun 2004. Untuk itu, mereka harus memberi beberapa perangkat hardware dari Singapura karena sudah tidak ada lagi yang menjualnya di Indonesia. Tak hanya pembelian spare part, dana itu juga digunakan untuk biaya maintenance dan teknisi sistem tersebut sampai bulan Oktober 2009.

Oya, satu lagi.. Dari berita-berita di internet, aku mendapatkan info kalau ternyata KPU di tengah proses tabulasi datanya, sempat meminjam 5 server dari BPPT karena server yang ada (sejumlah 6 server) sudah gak kuat lagi menangani pekerjaannya (dan, sempat down juga kan??). Padahal dengan anggaran Rp 1,6 Miliar aja bisa diperoleh 30 server baru dengan storage 24 terrabyte.

Entah, aku masih belum mndapatkan informasi lebih lengkap lagi tentang seluk beluk internal sistem informasi KPU ini. Nanti akan aku cari tahu…

Untuk artikel selanjutnya, aku akan jelaskan tentang teknologi ICR atau Intelligent Character Recognition yang dipilih oleh KPU untuk -katanya bisa- mempercepat proses tabulasi data. To be continued… ;)
*) dari berbagai sumber terpercaya..cari aja di detik

Comments 1 Comment »

.. LOVE ..

Sabtu, 18/04/2009 11:14 WIB

Assalamualaikum…

Ustadz saya mau tanya. begini pada dasarnya saia mempunyai prinsip tidak ingin mengatakan cinta kepada seorang wanita sebelum wanita itu menjadi isteri saya. Saat ini usia saia 20 thn dan saya jatuh cinta pada seorang akhwat. apa yang mesti saia lakukan? apakah saia harus mengutarakan cinta atau langsung mengatakan ingin melamar dirinya? Tapi saia masih kuliah dan mempunyai pekerjaan sampingan yang pendapatan hanya cukup buat saya seorang.

Jawaban

Wa’alaikum salam wr. wb.

Ananda yang dicintai Allah SWT, jika waktu menikah masih terlalu lama, maka sebaiknya kita jangan jatuh cinta dahulu. Hal itu agar tidak menjadi problem seperti yang Ananda alami; sudah jatuh cinta tapi belum bisa menikah karena usia masih terlalu muda (20 tahun) dan masih kuliah.

Solusi yang perlu Ananda lakukan saat ini adalah menghilangkan perasaan cinta kepada si perempuan tersebut. Caranya dengan mengalihkan cinta Anda kepada Allah SWT. Jika cinta kita kepada Allah kuat maka cinta kita kepada selain Allah akan proporsional dan tepat waktu. Posisi cinta kepada siapapun (termasuk kepada lawan jenis) harus ditempatkan di bawah cinta kita kepada Allah, Rasul-Nya dan dari berjihad di jalannya (QS. 9 : 24). Waktu bercinta kepada selain tiga hal tersebut juga harus tepat. Untuk bercinta dengan lawan jenis sebaiknya hanya dilakukan setelah menikah (cinta ba’da nikah). Jadi Anda tidak perlu menyatakan cinta kepada si perempuan tersebut, apalagi sampai melamarnya.

Wah kalau begitu berat dong..mungkin Ananda beranggapan begitu. Jawabannya tidak kalau kita sudah terbiasa menata hati untuk cinta yang benar. Memang menata cinta yang benar butuh perjuangan. Tetapi justru itulah hakekat kehidupan : memperjuangkan cinta untuk selalu proporsional. Yaitu, cinta tertinggi kepada Allah, rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya. Lalu cinta-cinta lainnya harus berada di bawah ketiga hal tersebut, sehingga kemauan Allah dan Rasul-Nya kita utamakan lebih dari kemauan apa dan siapa yang kita cintai.

Apakah perasaan cinta kepada lawan jenis itu wajar jika dilakukan sebelum kita menikah? Jawabannya : jika itu sebatas kecenderungan untuk mengagumi (yang merupakan kualitas cinta terendah) maka hal itu wajar, seperti yang pernah dialami Nabi Yusuf as ketika memiliki kecenderungan kepada Zulaikha.
“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih” (QS. 12 : 24).

Dari ayat tersebut, Yusuf as memiliki kehendak (kagum/naksir) kepada Zulaikha, tetapi ia segera sadar bahwa lebih dari itu (yaitu mencintai dan berpacaran) adalah perbuatan buruk dan keji. Oleh karena ‘kewaspadaan’ untuk tidak terjerumus pada cinta yang terlarang itulah, maka Allah SWT menyebut Nabi Yusuf as sebagai ‘hamba Kami yang terpilih’. Jadi, sebaiknya hubungan kita dengan lawan jenis jangan sampai pada tahap cinta mendalam atau yang semacamnya. Apalagi sampai melakukan pacaran dan berdua-duaan di tempat yang sepi, lalu melakukan kontak fisik yang menjerumuskan pelakunya pada sex before married.

Lalu kalau tidak boleh pacaran dalam Islam, apa yang perlu dilakukan oleh bujangan dan gadis untuk mencari jodoh? Caranya adalah bergaul seluas-luasnya, tetapi jangan berpacaran. Nah.. kalau sudah tiba saatnya untuk menikah, tinggal minta dicarikan calon suami/isteri melalui perantara (bisa teman terpercaya, guru ngaji/murobbi, orang tua, dan pihak-pihak lain yang mau membantu mencarikan jodoh untuk kita). Atau kalau berani, bisa juga langsung menanyakan secara baik-baik kepada gadis/bujangan yang kita kenal di lingkungan kita untuk mau menjadi calon suami/isteri kita (mengajukan lamaran/khitbah).

Dua cara inilah yang dilakukan para sahabat Nabi dan diteruskan oleh generasi Islam terdahulu. Mereka tidak mengenal istilah pacaran, sehingga hubungan antar lawan jenis pada saat itu berada pada kesucian dan kemuliaan yang tinggi. Saya saksikan saat ini sebagian pemuda/pemudi Islam yang komit dengan nilai Islam telah mencontoh apa yang dilakukan generasi Islamterdahulu. Menikah tanpa pacaran dan alhamdulillah rumah tangga mereka aman dan rukun-rukun saja.

Jadi jika Anda (saudara penanya) tidak ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat ini, tidak usah ditanyakan kepadanya. Tidak usah berdoa kepada Allah agar Anda diberikan tanda dia suka atau tidak suka kepada Anda. Sebab semua itu percuma dan hanya mengotori hati. Lupakan ia dengan cara meyakini bahwa perasaan cinta Anda sudah tidak proporsional (tidak sesuai syariat Islam). Yakini bahwa jodoh Anda sudah ditakdirkan Allah SWT. Dan jika perempuan tersebut memang jodoh Anda, maka ia tidak akan kemana-mana.

Semoga jawaban ini bisa mencerahkan kita semua. Amiin ya Robbal alamin.

Salam Berkah!

(Satria Hadi Lubis)
Mentor Kehidupan

*) Setuju bgt sm jawabannya ustadz..  ;)
sumber: http://www.eramuslim.com/konsultasi/motivasi/cinta.htm

Comments No Comments »

Pagi itu ke kantor giliran memakai jilbab warna krem berbahan sutra dengan garis-garis ungu. Sutra, bahannya agak melayang dan tipis. Jadi, seperti biasa aku harus merangkapnya dengan sebuah jilbab putih polos di bagian dalamnya.
Sudah hampir 10 menit aku berdiri di depan kaca untuk memasang jilbab itu.. Entah, kali ini cukup ribet, agak gak kooperatif jilbabnya. Jilbab yang luar ga kompak sama jilbab dalamnya. Pertama-tama, jilbab yang dalam dipasangkan/disatukan dengan jilbab luar. Kasih space yang cukup lebar agar jilbab dalam tidak terlihat ke luar. Lalu,lipat jadi segitiga.. Jilbab putihnya di dalam ya.. Namanya juga jilbab daleman..hehe.
Udah?? Pakai ciput, trus pasang deh jilbabnya.. Di session ini, juga masih dperlukan keterampilan dan ketelatenan.. Lipat sana lipat sini, merapikan kain bagian depan agar tidak terlihat riweuh dan menambahkan bros di sisi Pojok Kanan ataS (kampanye dah abis kan??hehe). Jangan lupa kasih jarum di sisi kanan dan kiri lipatan jilbab di sekitar telinga agar jilbabnya gak miring-miring.. Huaaa..finally alhamdulillah selesaaaii… :D Melengganglah aku keluar kamar.. Trus menyiapkan tas yang akan dibawa. Tas punggung hampir kupakai..gak sengaja ngelewati kaca besar dekat ruang tengah.. Mataku tertuju pada jilbab bagian kiri belakangku. Ternyata jilbab dalamannya menyembul keluar..
“Kyaaa…jilbab dalamnya keliatan..gak rapi..”, aku setengah histeris..
Memicingkan mata dan membatin.. “Mesti mengulang kembali ritual pemasangan jilbab”.
Padahal jam dinding dah tereak-tereak menyuruhku cepat berangkat kerja. “Vina..dah lewat 5 menit nihhh!!”, ujar si jam dinding dalam khayalku.. ~_~
“Okey-okey.. aku akan merapikannya dengan cepat..”, aku berusaha gak panik..
Sembilanan menit berlalu..Taraa… Selesei juga jilbabnya. Aku berkaca lagi..fiiuuhh….ternyata masih juga balapan jilbabnya..
“Gak papa dah, mendingan dari yang tadi..daripada kelamaan berangkat ngantor..”, pasrah..hihi..
Dan seharian ini akan kulalui hari-hariku dengan jilbab -semi- balapanku (pake kata “semi”, soalnya kadang balapan, kadang nggak klo aku ingat merapikannya).
Eh, tadi aku nyebut “balapan jilbabnya” ya?? Mungkin ada yang gak ngerti itu istilah apa.. Itu istilah aku dapatkan pas jaman kuliah dulu. Istilah itu muncul di kalangan akhwat (ya iya..sejak kapan ikhwan pake jilbab..wkwkwk..).
Istilah “jilbab balapan” ditujukan untuk pemakaian jilbab dobel tapi kurang rapi. Jilbab dobel/rangkap yaitu pemakaian dua jilbab, satu yang diluar, satunya lagi yang ngerangkep didalam untuk mengantisipasi nerawangnya jilbab yang diluar. Tapi karena sesuatu dan lain hal, ternyata jilbab dalamannya ikut menyembul keluar. Jadi, kelihatan sisi jilbab dalam itu ‘mendahului’ jilbab yang luar. Yah..karena posisinya saling mendahului, akhirnya disebutlah jilbab balapan.. Bukan balapan jilbab lo.. Hoho..

my lovely office, 14 April 2009

akhwat..akhwat.. ribet seru bgt siihh.. :D

Comments No Comments »