Anakku…

Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar
karena mengandungmu

Maka ibu akan memilih mengandungmu !!

Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan
kebesaran Allah
Sembilan bulan nak…
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak
karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak
nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata

Anakku…

Bila ibu boleh memilih untuk ibu berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu !!

Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit
kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu
pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke
luar ke dunia sangat ibu rasakan

Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita
berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa
sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah…
saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,

Anakku…

Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau
harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,

Maka ibu memilih menyusuimu,!!

Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu
dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat
berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu
dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak
bisa rasakan

Anakku…

Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang
rapat

Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana

Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…

Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle
kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan
kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu

Percayalah nak…

Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…

*) Puisi by Ratih Sanggarwati
Just can’t wait to be a mom :)

Comments 2 Comments »

Karya : Ugik Madyo

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini.
“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”
“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya.
Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya.
Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada YTH
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya
Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.
Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan.
Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda.
Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.
Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis.
Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
“Kenapa kamu memilih dia.”
“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”
“Maksudnya?”
“Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.”
“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.
“Gik…”
“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses.
Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa). Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa.
Amin.

Comments No Comments »

Cinta itu indah. Karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.
Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka : memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu.
Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga.
Itu juga yang membedakan para pecinta sejati dengan para pencinta palsu. Kalau kamu mencinta seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. la tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. la besar dan berbuah dari sinar cahayamu.
Para pencinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencinta seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan.
Bukan hanya itu. Rencana memberi yang terus terealisasi menciptakan ketergantungan. Seperti, pohon tergantung dari siraman air dan cahaya matahari. Itu ketergantungan produktif. Ketergantungan yang menghidupkan. Di garis hakikat ini, cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Mereka menciptakan kehidupan bagi orang-orang hidup. Karena itu kehidupan yang mereka bangun seringkali tidak disadari oleh orang-orang yang menikmatinya. Tapi begitu sang pemberi pergi, mereka segera merasakan kehilangan yang menyayat hati.
Tiba-tiba ada ruang besar yang kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang.
Barangkali suatu saat kamu tergoda untuk menguji dirimu sendiri. Apakah kamu seorang pencinta sejati atau pencinta palsu. Caranya sederhana. Simak dulu pesan Umar bin Khattab ini: hanya ada satu dari dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat pasangan hidupnya wafat : merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung.
Sekarang bertanyalah pada pasangan hidup Anda tanpa dia ketahui. Jika aku mati sekarang, apakah kamu akan merasa bebas dari sebuah beban atau akan merasa kehilangan tempat bergantung? Kalau dia merasa kehilangan, maka dilangit hatinya akan ada mendung pekat yang mungkin menurunkan hujan air mata yang amat deras. Jika tidak, mungkin senyumnya merekah sambil berharap bahwa kepergianmu akan memberinya kesempatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Comments No Comments »

Tepat setahun yang lalu.. Waktu itu aku masih ikut diklat Auditor Ahli di pusdiklat kantor di daerah Kalibata, Jakarta..
Jam di HPku masih menunjukkan pukul 00.30 di tanggal 29 November 2007 saat tiga orang teman sekamar membangunkanku.. Dalam keadaan masih setengah sadar, Mbak Desi, Mbak Yuli, sama Bu Dessy (sampe skrng ak msh ga ingat ejaan yg bener antara kedua “Desi” itu ;) ) menarik-narik tanganku, memaksaku bangkit dari tempat tidurku.
“Apaan sih?? Kenapa ni??”, tanyaku sambil masih berusaha menyadarkan diriku dari rasa kantuk..
Mereka tampak tidak bergeming dan terus menerus menarik-narik tanganku. Ga butuh waktu lama, aku sadar apa rencana mereka… Ting!! Ditambah dengan kedatangan Dyta dari kamarnya, nambah satu lagi tersangka malam itu. Sambil ketawa-ketawa mereka terus menggiringku ke arah kamar mandi.
“Kya….!!! Mo diapain ni??”, tanyaku.
Semakin aku sadar apa rencana mereka, semakinl aku berusaha untuk menahan diriku untuk ditarik-tarik menuju ruang eksekusi -_- Tapi apa daya, kekuatan mereka jauh lebih besar dari usahaku untuk melakukan perlawanan. Dan benar, sangking ngototnya mereka hampir aja pake acara narik-narik kakiku. Hadoohhh…. :| “Eehh…mo jatoh ni….”. Posisiku dah hampir aja jatuh dari tempat tidur..
Tapi akhirnya aku mengalah juga.. Kasian juga ngeliat klo usaha mereka yang udah semangat 45 tapi gagal. “Sudahlah..Kalo usaha mereka gagal kan ga lucu..”, pikirku dalam hati. Sambil senyam senyum n sedikit menghujat-hujat tindakan mereka, akhirnya aku menuju ruang eksekusi itu.. Fiiuuhhh.. :p
Di ruang itu ternyata sudah tersedia satu ember air dengan bunga-bunga warna merah hasil rampokan -entah sapa yang metik di daerah sekitar wisma-. Dan…”kyaaaaa….”, sukses banget mereka menyiramku dengan gayungan-gayungan air bunga dari ember itu! Byuurrrrr… basah semua dah!!
“Ga soppaaaannnn..!!”, geramku, gemes sama tingkah mereka.. Dan seketika, meledaklah tawa dari kamar 302! Empat makhluk sahabat seperjuangan selama diklat itu puas banget setelah yakin bahwa usaha mereka sukses! ;) “Brrrrr…..”, aku menggigil! Ya iya lah…tengah malam disiram air.. dingin lagi airnya!!
Setelah 3 orang, giliran Dyta yang berniat ambil giliran nyiram. Tapi aku dah keburu ambil alih gayung yang dipakai. Setengah mengancam, aku katakan “Dyt, klo kamu berani hayo! Ntar aku siram duluan ya!”. Hehehe.. Dan Dyta pun memilih mengurungkan niatnya daripada kena siram.. :p Tapi tetep aja, ketawanya itu lo..ckckck.. Aku serem aja klo orang-orang se-wisma ngamuk-ngamuk denger ada suara nenek lampir menggelegar tengah malam..
“Brukkk!!”, bener aja perkiraanku! Ga lama ada warga wisma yang nggebrak pintu kamarnya! Seketika itu juga, tawa teman-temanku berhenti, takut klo ada tindakan yang lebih agresif lagi dari penghuni yang laen. Hehe..
Yah..demikianlah pesta malam itu akhirnya usai.. Satu persatu minta maaf karena telah “mendzolimi” aku.. Xixi.. Satu persatu lalu mengucapkan selamat karena usiaku waktu itu dah genap 23 tahun.
Masuk ke usia baru, angka baru, jatah hidupku di dunia ini semakin berkurang.. Sementara itu masih banyak..teramat banyak rencana dan kewajiban menanti untuk diwujudkan..
Sebenarnya, hitungan umur hanyalah salah satu cara menghitung keberadaan manusia di muka bumi ini. Tiada makhluk yang bisa mengukur -dengan ukuran- kualitas seseorang… Mengetahui seberapa banyak yang telah seseorang kontribusikan dan manfaat yang telah diberikan selama hidupnya.. Dan manusia pun membuat ukuran sendiri secara kuantitas, yaitu dengan menggunakan satuan tahun.
Dan kini, tinggal menghitung jam saja, sekali lagi aku melangkah ke usia yang baru. Untuk yang ke 24 kalinya  insya Allah aku akan merayakan miladku. Ulang tahun, gitu istilahnya. Padahal bahasa Inggrisnya Birthday lo..Hari Lahir, bukan Tahun Lahir kan??hehe.. (guyonanmu garing Vin.. :p )
Alhamdulillah.. Syukron Ya Allah.. Kau yang Maha Pengasih dan Penyayang bagi makhluk-makhlukMu. Yang masih memberikan kami kesempatan dan usia untuk memperbaiki diri. Padahal berulang kali kami sering berbuat dzolim pada diri sendiri. Yah..bukankah melanggar perintahMu itu berarti dzolim kepada diri kami sendiri?? Hanya saja sering kami tidak menyadari hal itu.. :| Semoga kedepannya hari-hariku dipenuhi dengan lebih banyak lagi kebarokahan.. makin ditambahkan nikmat imannya..dan lebih banyak lagi manfaat yang bisa aku berikan bagi Deen ini..bagi orang-orang terkasih disekelilingku, dan bagi bangsa ini.. Amin..
“Ya Allah, tunjukkanlah jalan bagi kami, dan penuhilah dengan cahayaMu yang tak pernah redup, lapangkanlah hati kami dengan keikhlasan dan kesabaran, dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepadaMu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifahMu, dan matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalanMu. Karena sesungguhnya, Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Segala puji bagi Engkau, Tuhan semesta alam..penguasa apa-apa yang ada di langit dan bumi.”
Jazakumullah khairan katsir buat do’a teman-teman, saudara saudariku.. :) Sesungguhnya setiap ucapan adalah do’a.. Dan setiap do’a itu barokahnya akan kembali juga ke pemberinya. Insya Allah… Amin..

-metmiladukhti-

Comments 2 Comments »

Besarnya daya pengaruh dan kepiawaian mengendalikan hidup, bermula dari dalam diri sendiri. Orang yang tidak mempunyai tekad dan obsesi yang besar, takkan mampu memiliki daya pengaruh bagi orang lain dan bagi kehidupan. Andaipun ia melakukan upaya untuk memberi pengaruh, ia akan lebih cepat terhalang lalu berhenti di tengah jalan. Jalan ini bukanlah jalan mudah yang berhampar bunga dan aroma kesturi. Melainkan jalan yang penuh keseriusan, kesungguhan, yang memerlukan para tokoh pahlawan yang istimewa kepahlawanannya, bukan hanya sosok laki-laki (manusia) biasa.
Kita perlu mengetahui apa indikasi paling penting, yang menunjukkan tingginya obsesi dan keinginan seseorang. Indikasi-indikasi itu antara lain:
1. Tingkat penyelesaiannya atas kerugian hilangnya waktu dan usianya yang terlewat tanpa manfaat.
2. Banyak berfikir dan merenungkan kondisi ummat.
3. Banyak memberi masukan, nasihat, solisi kepada orang-orang yang menginginkan perubahan dan perbaikan.
4. Selalu menutamakan yang lebih ideal.
5. Banyak gusar karena merasa waktu semakin sempit dan ia tidak mampu melakukan target yang diinginkannya dalam satu hari. Kegusaran yang bukan keluhan, tapi kegusaran sejati dari kerja yang terus-menerus hingga menyita waktu.
6. Kekuatan tekadnya, konsistensi pandangannya, dan kemantapan sikapnya. Jika sudah menetapkan sesuatu tidak terburu menyudahi ketetapannya ini meski harus menghadapi tantangan. Ia akan melanjutkan terus ketetapannya sampai ia bisa memetik buahnya. Sikap ragu dan berubah sikap termasuk karakter obsesi yang rendah.
Selain itu, berikut adalah Lima Belas Point yang penting dilakukan untuk membangkitkan obsesi kita:
1. Memohon pertolongan pada Allah dan tawakkal atas apapun yang terjadi. Banyaklah do’a dan meminta kepada Allah swt.
2. Tumbuhkan perasaan bahwa apa yang dilakukan adalah demi memperoleh keridhaan dan pahala dari Allah swt semata.
3. Lakukanlah evaluasi, kontrol terhadap aktifitas harian yang dilakukan. Dan rumuskanlah pekerjaan yang jelas dalam hari-harimu.
4. Jauhi ragam masalah dan aktifitas remeh temeh dan tidak bernilai.
5. Tetap pelihara mana yang telah ditetapkan sebagai prioritas untuk dilakukan.
6. Jangan terlalu banyak berfikir atau melakukan hal-hal yang bersifat sekunder dan tidak primer.
7. Berfikir dan merenung tentang kedudukan tertentu yang bisa menjadi tangga mencapai obsesi yang tinggi.
8. Berbicara pada diri sendiri dan meyakinkannya dengan obsesi tinggi yang dimilikinya.
9. Mujahadah (bersungguh-sungguh) dan serius mengendalikan jiwa dan tidak menyerah pada keinginannya begitu saja.
10. Mau berhadapan dengan tantangan, tetap menengadahkan kepala ke langit.
11. Membaca sejarah dan peri hidup orang-orang yang bersungguh-sungguh mencapai keinginannya.
12. Optimis dan tidak mudah putus asa.
13. Menghindari berlebihan dalam hal mubah.
14. Berhati-hati menunda pekerjaan.
15. Menghindari respon yang terlalu cepat untuk memenuhi keperluan rumah atau memiliki fasilitas hiburan sebagaimana yang umum dimiliki.

Demikian, sedikit tips yang bisa saya ambilkan dari rubrik Oase di majalah Tarbawi edisi 13 November 2008. Dari guratan pena DR. Ali Al Hammadi, seorang trainner yang sekaligus da’i. Pendiri sekaligus Director Creative Thinking Center, Dubay, UEA. Yang juga menjadi pengasuh Islamtime.net.
Semoga bisa bermanfaat dan membantu para sahabat untuk mewujudkan obsesinya.. :) selamat berjuang!

Comments No Comments »

Kamu Fatih ya, perkenalkan nama saya Ukhti !. ” Aku agak bingung ketika kalimat itu masuk dalam inbox-ku. Sudah beberapa hari ini sms dari seseorang yang mengaku bernama ukhti ini mampir di inbox Hp ku. Awalnya aku gak begitu ambil pusing dengan pesan yang masuk, karena aku pikir nanti juga bosen sendiri, tapi kok lama lama rasanya ganggu juga. habisnya pas aku lagi asik-asiknya ngeband sama temen-temenku, hp ku berdering, ketika ku angkat ternyata dari si Ukhti itu. Mana pesannya cuma bilang ” jangan lupa waktunya shalat Ashar.” memang sih sudah waktunya Ashar, tapi kan aku lagi latihan sama temen-temen buat persiapan manggung, nanti juga aku shalat, biar begini aku gak pernah bolong lho shalatnya!, ya walaupun seringkali harus mepet waktu ‘injury time’. Hari ini aku puas banget pasalnya aku dan temen-temen sukses tampil bawain lagu “Don’t Cryâ€� nya GNR ( gun’s n roses ), selesai manggung aku langsung ke rumah Ica, cewek seksi yang udah tiga bulan ini jadian denganku.

Ditengah perjalanan Hp-ku bergetar menandakan ada sms masuk, ketika aku lihat ternyata ada pesan singkat ” Bacalah Al Quran karena Al Quran pedoman hidup kita……Ukhti.” “huh ngapain sih nih orang kurang kerjaan amat sih pake sms suruh baca Al Quran segala.”batin ku. Tanpa ambil pusing aku teruskan perjalanan tandang ke rumah si Ica . Senin ini aku harus ke kampus pagi-pagi karena ada tugas yang harus kukumpulkan sebelum pukul 9 pagi. gak seperti biasanya, sebelum ke kampus aku sempetin ke warung bubur ayam sebelah kampus. karena buru-buru, aku langsung lari begitu bubur selesai dibungkus dan aku bayar, “bruk…” ya ampun bubur ayam-ku tumpah. Sesosok wajah aku lihat memerah dihadapanku sambil tergagap meminta maaf padaku, ” maaf mas biar saya ganti bubur ayamnya.”

Kalau saja bukan seorang wanita yang menurutku anggun dengan jilbab panjangnya pasti sudah kumaki dia. “We alah piye kowe nduk. ” teguran penjual bubur kepada gadis itu sedikit agak marah .” Sudah bu nggak papa, tolong buatkan satu lagi saja.”ujarku. Setelah dibuatkan aku langsung pergi ke kampus mengejar jam 9 pagi. setelah kejadian itu aku jadi sering mampir ke warung bubur “Mbok Parti”, selain buburnya lumayan enak aku juga bisa melihat wajah anggun yang selalu dibalut dengan jilbab panjang itu. walaupun kadang aku harus sedikit kecewa karena cewek yang belakangan kutahu namanya Farah itu tidak ada di situ.

“Bagaimana, sudah dibaca belum buku yang aku kirim ” pesan singkat itu hadir lagi di display Hp ku. Hari sabtu kemarin ada tukang pos mengirim kado yang ditujukan untukku.” Perasaan aku gak ulang tahun hari ini ” gumamku. Setelah aku buka ternyata isinya buku berjudul “Muhammad.” aku gak tau siapa pengirmnya sampai aku terima pesan singkat di Hp ku. ternyata dia lagi,”Ukhti”. Sudah 3 bulan ini pesan singkat dari si “Ukhti” mampir di Hp ku. Kadang mengingatkan shalat, memeberi tau acara pengajian di Mushalla kampus, kadang hanya mengirim hadits-hadits nabi. walaupun selama tiga bulan ini sms itu gak pernah aku balas tapi masih saja dia nggak bosen kirim sms ke aku. pernah satu ketika aku coba telepon orang yang mengaku Ukhti itu, ternyata seorang wanita dengan suara lembut, ketika aku tanyakan siapa sebenarnya dia, dia malah menutup pembicaraan.

Akhir akhir ini entah kenapa aku jadi lebih suka ke mushala kampus, mungkin karena pengaruh pesan pesan singkat itu atau memang aku “ngerasa” nyaman ada di mushala . Usai shalat dzuhur aku duduk duduk diteras mushala, tanpa sengaja aku melihat Farah masuk ke mushala bagian wanita. “Assalammualaikum”.. aku sedikit kaget ketika ada orang dibelakang ku yang mengucapkan salam. “wa’alaikum salam” timpal ku. “lagi mikirin apa nih, sampe segitunya ?.” Seorang bertampang teduh itu mencoba menyapaku. ” Eh enggak mas, lagi nikmatin angin siang yang semilir.” “kayaknya aku baru ngeliat kamu deh, boleh tau siapa namanya?.” “nama saya fatih mas, geografi 2000, mas sendiri siapa?”. “saya Rachman, kedokteran 98.” Tak terasa jarum jam ditanganku tepat lurus menunjuk angka 3. Baru kali ini aku bisa selama ini ngobrol dengan seseorang tanpa ditemani rokok atau secangkir kopi, entah kenapa aku merasa nyaman ngobrol dengan mas Rachman, mungkin karena pembawaannya yang tenang dan ada nuansa yang berbeda darinya. Padahal kami hanya mebicarakan hal-hal ringan, sampai akhirnya aku tahu ternyata mas Rachman itu kakanya Farah.

Dari pertemuan kali itu aku semakin sering ke mushalla, untuk hanya sekedar shalat, ikut kajian sampai sengaja ngobrol dengan mas Rachman untuk tau lebih jauh tentang Farah. “Akhi fatih, pekan depan jangan lupa halaqohnya dirumah ane ya! .” Suara mas Rachman terdengar sayup-sayup mengingatkanku. Sudah satu tahun lebih lima bulan ini aku mengikuti pengajian yang lebih dikenal halaqoh dikalangan anak kampus ini. Setelah aku ikut halqoh sama temen-temen di mushala aku jadi lebih banyak tahu tentang islam, gimana harusnya seorang muslim itu, gak cuma shalat doank tapi akhlaknya jauh dari tuntunan Rasullullah saw. tapi seorang muslim itu ternyata harus sebisa mungkin menerapkan syariat islam dalam kehidupannya serta mendakwahkan nilai-nilai

Comments Comments Off

Nasyid Suci Sekeping Hati mengalun meramaikan kamarku. Sejenak..ku isi beberapa menit kedepan untuk melepas kepenatan seharian ini..
Fiuuhh… Beberapa hari ini bener2 jadi peak season buatku. Pekerjaan rasanya ga ada abisnya. Selain pekerjaan rutin ngurusin IT stuff, banyak pekerjaan tambahan yg ngantri untuk segera dibereskan.
Tugas pertama, ngurus surat2 n bekal keberangkatan ke Banjarmasin. Duhai..benar kata bosku, kantor ini perlu segera dibuatkan center of data! Abisnya, data pada mencar2 ga jelas. Distributed data! :( Nyari data ini disini, data itu kesana. Orang yang pegang data ga ada ato data pasangannya ga ada, cari alternatif lain.. Walah… Padahal aku masih harus bikin rincian SPPD n beli tiket..
Tugas kedua, kepergian Ria PS ke Tarakan otomatis mewariskan kerjaan2 yang biasanya dia tangani, ke aku. Kini aku jadi tau gimana bikin lapming. Aku juga tau cara meng-GU-kan tagihan2 (caranya: direkap semua file2 yg dkasi mas ganesh, trus serahkan ke mbk nur. mbak nur ntar ngasi uang GU-nya n bantu mbikinkan SPP!hehe…). Ditambah, ngurus administrasi surat menyurat n jadi bendahara operasional Umum.
Fiuhhh… these all make me have to work harder n faster (nulisnya bikin aku sadar, english ku parah!!kya!! ~_~ ) But, subhanallah… Betapa Engkau mengajarkan banyak hal dari apa yang Engkau ujikan pada hambaMu..
“di hati seharum kasturi, seindah pelangi..segalanya bermula”,..lirik favoritku dari nasyid Jendela Hati membuatku jadi ikut berdendang ;)
Akibat semua kesibukan itu, jadi ga sempat lagi melakukan hal-hal yang biasa aku lakukan di season2 normal di kantor klo lagi senggang.. Misal, email2 sahabatku di milis kelas semasa kuliah pun hanya sebagian yang bisa kubaca. Sedihnya, belum satupun kubalas. “Guys, maaf ya blom sempat2 menyapa kalian..” Ato, mbaca blognya generasighuraba yang tetep keukeuh mosting segala hal yg bikin pembacanya -yg masih lajang- semangat untuk segera menikah. Xixixi.. keep istiqomah ya pak!
Benar kata mbakku, “klo seseorang itu dah sibuk..bakal terus ditambah amanahnya, n jadi makin sibuk” :) awalnya sih sempat ga ngeh mksdnya.. Tapi setelah mikir2 lagi..iya,bener! ;) Saat seseorang itu sibuk dengan amanah, dan Allah merasa ia bisa menunaikan amanahnya itu dengan baik, maka Allah akan menambahkan lagi amanah untuk orang itu. Orang itu menjadi semakin bnyk manfaatnya, semakin banyak ladang amalnya..dan semakin banyak pahala yang ia bisa raih. Subhanallah..
Tapi, dalam kesibukkannya itu janganlah sampai ia lupa akan kewajibannya beribadah kepada Allah.. jangan sampai ia lupa bersyukur dengan nikmat yang tlah diberikan. Sibuk itu ga ada henti2nya dan bisa menjerumuskan kita kalo kita ga bisa memanajemannya! Maka, ambillah waktu diantara kesibukanmu untuk bersyukur padaNya..  Bersyukur karena kau diberikan usia yang barokah serta banyak sekali ladang amal oleh Allah.. Karena ga semua orang diberi kesempatan seperti itu..
“Bersyukurlah..dan jangan banyak mengeluh ukhti.. :) simpan sejenak asamu. Lakukan apa yang ada didepanmu. Just..do the best! Pergunakan waktu ini untuk berbuat lebih banyak lagi. Sebelum semuanya berganti dengan masa lain dan menyisakan penyesalan. Yakinlah asamu itu akan segera terwujud..hanya menunggu waktunya saja.. Semua akan indah pada masanya :)
“Allah Maha Besar dengan segala keagungan milikMu”, alunan suara Opick seperti memberikan semangat lagi buatku…memunculkan lagi senyuman optimisku :) .. membuatku menarik nafas panjang dan berteriak lantang “semangat buuuu!!”, ups..teriaknya dlm hati aja ya.. ;)

Comments 2 Comments »

Seorang pejuang sejati tak mengejar duniawi belaka
karena itu bukan segalanya!
Ada hal lain, yang lebih kekal yang ia ingin raih…
yaitu kemenangan di yaumul hisab nanti..

Jikalau ia hanya mengejar duniawi..
Niscaya, Allah hanya akan memberikan yang duniawi itu padanya
Dan tunggu saja..
kehancuranlah yang akan terjadi!

Untuk itu, seorang perjuang sejati tak akan bersedih
bila kemenangan duniawi belumlah ia raih
Karena sesungguhnya, yang ia lakukan adalah
terus berjuang dengan ikhlas.. ikhlas karena Allah

Bekerja lebih keras, cerdas, dan ikhlas…
Tetap tersenyum..dan terus berjuang untuk masa depan
Untuk kehidupan yang lebih baik..
Yang lebih adil dan sejahtera..
:D
-semangat!!! ;) -

Comments 1 Comment »